Sunday, February 21, 2016

15th Post: Live The Life With No Boundaries

So, have you ever wondered that why the older you gets, the cruel your world will be? your Social Life, especially.

Hampir semua hal berubah ketika semakin menua seperti kita mengenal cinta lebih dalam, mempunyai prinsip dalam hidup, mulai mengerti apa yang dimaksud dari setiap nasihat yang orang tua kita ucapkan yang membuat kita merasa terbatasi, serta berubahnya rasa toleransi dan hal lainnya. Gue sendiri banyak ngerasain perubahan dalam dunia sosial, seperti dari yang kalau gue dan temen temen gue udah ngumpul bisa lebih dari lima orang, sekarang cuma tinggal berempat yang masih tetep ngumpul meskipun memang frekuensi pertemuannya yang udah engga sesering dulu, banyak yang udah kerja, keluar kota, dan kesibukan lainnya. bukan, bukan karena hal itu gue ngerasa pertemanan gue berubah, tetapi semakin hari pertemanan kita mulai berkubu-kubu.

Entah kenapa dan apa masalah awalnya gue sendiri juga bingung, atau mungkin memang pertemanan itu lebih susah dimengerti dari wanita. misalnya ada satu orang yang kurang suka sama suatu hal, ada beberapa orang yang memilih untuk berbicara namun ada juga yang hanya bisa memendam. Entah sampai kapan bisa dipendam tapi sepertinya perasaan bisa terakumulasi yang pada akhirnya rasa "ah, males ah" itu terbentuk. Karena biasanya dalam pertemanan sebuah ejekan adalah hal biasa, yang tidak biasa adalah ketika ejekan terlontar dalam situasi yang tdak tepat dan yang mengejek biasanya malah berkata "yaelah baper banget jadi orang" atau "Dih, ngapain gitu doang gue harus minta maaf". Sepertinya sekuat-kuatnya orang pasti bisa sakit hati, itu mengapa kita disebut manusia karna kita punya hal yang disebut perasaan.

Pada dasarnya semua itu sesimpel kalau salah minta maaf dan jangan diulang, kalau berbeda selera saling menghargai, tertawa bersama bukan mentertawai. Tapi gimana caranya orang bisa berubah jika sewaktu meminta maaf selalu dijawab dengan "buat apa sih minta maaf, gue gak apa-apa ko" tapi dalam hati tetep dipendam, bagaimana caranya orang mau menghargai kalau maunya hanya dihargai? karena memang masing masing punya caranya sendiri, mungkin caranya tidak sama tapi menurut gue gak jadi masalah kalau tujuannya sama.

 "Memberi petuah memang baik, tapi akan lebih baik kalau tidak menggurui."


2008
2008
2010
2011
2011


Mungkin gue bukan tipe orang yang bisa blak-blakan bilang kalau gue sayang sama mereka, bahkan sekedar manggil mereka sahabat. Tapi jujur gue emang bukan tipe yang dikelilingin banyak orang, banyak teman ataupun sahabat karna itu.............



















Main lagi yuk.

Friday, December 25, 2015

14th Post: What An Extraordinary Indonesian

Hampir 5 bulan ga nulis apa apa disini, ya walaupun ga ada yang baca juga sih. Mungkin juga beberapa waktu belakangan gue juga ga ada bahan apa apa buat di terbitin disini. Dan hari ini, rasanya banyak hal yang bisa gue tulis, mungkin karna hari ini bertepatan dengan hari raya umat Nasrani dan juga bertepatan dengan hari Jum'at dimana umat Muslim yang pria melakukan kewajibannya yang berhukum sunnah (iya, gak sih?). Begitu spesial bukan hari ini?

Indonesia,negara dimana gue tinggal seharusnya adalah negara yang sangat, sangat, sangat indah. sebuah negara yang di isi dengan berbagai macam suku, Agama, Bahasa,Kebudayaan, dan apapun yang dibutuhkan manusia. Tapi, tidak sedikit manusianya atau lebih tepatnya orang yang tinggal di Indonesia yang masih enggan untuk membuat negaranya terlihat mempunyai masyarakat yang terhormat. Kenapa? Jadi akhir akhir ini gue suka jalan jalan di Youtube, karna Youtube sudah menjadi "Tempat Jualan" yang baru setelah Twitter dan Instagram. awalnya muncul yang namanya Selebtweet, kemudian Selebgram, dan sekarang Youtuber. oke, balik lagi ke topik pembahasan. Jaman dulu, orang buka Youtube rata-rata untuk melihat videoclip Band / Artist, dan Video tutorial. Namun sekarang setelah banyak bermunculan "Youtuber" tujuan orang membuka Youtube pun mulai sedikit demi sedikit beralih.

dari sekian banyak Youtuber itu tentunya juga banyak konten yang disajikan, mulai dari Video Sketsa, Vlog, Tutorial, Cover Musik, Unboxing, Reaction, Main Game dan lainnya. Bobot konten yang jadi "Selling Point" juga berbeda-beda. Pernah waktu itu gue liat video review Dreadout game di Channel PewDiePie, and do you know what i've found there? banyak orang Indonesia yang memberi komentar,rata rata sih berlebihan.

i think you should learn english first


jadi bahan bully-an


Round 1, FIGHT!


Pertanyaannya adalah, apa yang mereka banggakan dari bule yang main Dreadout? ini soal Pewds atau Dreadout? kalo emang bangga sama Dreadout,  kenapa ga comment di website  resminya Dreadout langsung? dan ketika ada bule yang buat jokes tentang indonesia, responnya adalah.....



DAAAR....

Dan ketika ada youtuber yang menggunakan kata kata kasar dalam konten videonya (padahal ga buat lucu sama sekali menurut gue) responnya adalah....




upss,ada yang ga di sensor..

so, yeah.. as you can see it, too much extraordinary Indonesian on Youtube. 

yang mau gue bilang adalah kalian semua ada di internet, apa yang kalian lakukan dilihat orang dari berbagai macam orang dari belahan dunia manapun. kalian yang merepresentasikan Indonesia dalam dunia internet. jadi, sebaiknya jangan seenaknya hanya karna ini cuma internet, bukan realita. dan untuk para mereka yang berkarya memlalui Youtube, buatlah konten yang lebih baik dalam segi apapun, apa bedanya dengan stasiun tv jika hanya ingin "memanjakan pasar".







Sunday, July 5, 2015

13th Post: Worthy?

" Have you ever considered that your self worth for the living? what have you done? "  -Terkadang pertanyaan - pertanyaan itu muncul bagai cerita pengantar tidur.



Friday, May 22, 2015

12th Post: Anika/Anila [Chapter 1 Part1]

Chapter 1:

“Bangun!”

Seruan itu kembali berbisik di telingaku. Akupun tidak tahu suara siapa yang selalu membangunkan ku dari tidur setiap paginya.

Namaku Anika, menurut orang-orang yang pernah aku temui Anika berarti “Sangat Indah”. Tetapi sayangnya namaku sepertinya tidak merefleksikan apa-apa dalam kehidupanku. Ya, hidupku tidaklah terlalu indah jika dibandingkan dengan kehidupan kalian yang masih tinggal dengan orang tua, menyantap sarapan bersama setiap paginya, dan hal lainnya yang melibatkan segelintir orang yang kalian sebut dengan Keluarga. Bukan, aku bukan seorang yang sebatang kara. Aku masih memiliki keluarga, tetapi entah mengapa aku tidak tahu dimana keberadaan mereka. Kehidupanku begitu rumit, yang bahkan aku sendiripun lupa kapan hal ini dimulai.

Dalam usiaku yang sekarang, seharusnya aku sedang sibuk mengurusi skripsi dan mengejar tanda tangan para dosen hanya demi sebuah gelar. Saat ini aku sedang menjadi target pengejaran polisi, karena isu yang dibuat oleh organisasi rahasia negara yang dibentuk untuk mengamati pergerakan ‘Dunia Lain’. Mereka menyebarkan isu bahwa aku adalah orang yang dapat membahayakan orang-orang yang berada disekitarku. Haha, omong kosong. Walaupun, memang selalu ada hal-hal aneh yang terjadi ketika aku sedang merasa malu ataupun ketika sedang marah. Sepertinya aku adalah salah satu objek yang sedang mereka amati. Sepertinya, mereka mengetahui sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui.

Entah sudah berapa kota yang sudah aku lewati dengan berjalan kaki, ya meski terkadang menumpang mobil yang lewat sih. Meski begitu aku tidak pernah merasa sendiri. Ada perasaan nyaman dan aman ketika aku sedang sendirian menikmati detik tiap detik, menit tiap menit dalam masa pengejaranku ini. Aku percaya, ada seseorang yang tidak aku ketahui siapa dan apa yang selalu menemaniku dan membangunkan aku setiap pagi, tentunya.

“hey, Anika! Cepat kemari sarapanmu sudah siap”.
“Baiklah! Aku segera datang, Rey”.

Sepertinya mereka sudah selesai mempersiapkan sarapan. Sekarang keluargaku adalah mereka yang kurang beruntung dalam hal materi namun tidak pernah kekurangan dalam hal moral. Rey adalah salah satu dari mereka. Rey menemukanku yang sedang tak sadarkan diri di tepi jalan hampir tertutup salju, malah sepertinya dia tidak menemukanku tetapi seperti diharuskan untuk menemukanku. Ya sepertinya, mahluk itu kembali membantuku.

“Nika, bagaimana dengan keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?” tanya rey segera setelah aku bergabung,

“Aku tidak pernah merasa sebugar ini, terima kasih atas pertolonganmu rey. Soup ini sangat enak sekali, siapa yang membuatnya?” kata ku, sambil memperhatikan anggota lainnya yang sibuk menyeruput soup hangat masing-masing.

“Tidak ada yang bisa membuat soup seenak ini selain pak Willy” jawab rey seraya memberi isyarat menunjuk pak Willy dengan matanya.

Ini adalah hari keduaku tersadar setelah hampir satu minggu tidak sadarkan diri, jadi aku tidak mengenal siapapun disini kecuali Rey. Karena memang Rey yang berada disebelahku ketika aku tersadar kemarin. Di tempat ini ada 5 orang, 3 pria dan 2 wanita. Ketiga pria itu adalah Rey, Joseph, pak Willy dan sisanya adalah Susan dan Keyle.

Rey, walaupun dia berada di tempat ini namun sepertinya dia bukan benar-benar berasal dari sini. Garis-garis wajahnya yang begitu tegas, badannya yang tinggi tegap, dia begitu tampan membuat aku yakin bahwa mantan kekasihnya pastilah sebanyak teman - teman satu kelasku di SMA. Masih banyak pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan kepada Rey, mungkin butuh waktu untuk aku mengenalnya sebab sepertinya rey adalah seorang introvert.

Joseph dan Keyle, mereka berdua adalah kakak beradik dengan Joseph sebagai kakanya. Tidak terlalu banyak yang aku ketahui tentang mereka. Rey hanya bilang kalau keluarga mereka menjadi korban pembantaian para perampok, Joseph dan Keyle berhasil menyelamatkan diri karena ayahnya berusaha keras menghalangi ayunan pedang yang terus menerus diarahkan kepada mereka. Walaupun begitu, sepertinya mereka berdua sudah sembuh dari luka yang sangat pahit itu. Ya, walaupun aku tahu luka itu tidak akan pernah bisa mengering. Aku kagum.

Susan, seorang wanita sekitar umur 30 tahun dan sepertinya  dia sedang mengandung terlihat dari perutnya yang sangat besar, aku rasa tidak lama lagi akan ada jiwa yang terlahir kedunia yang sangat kejam ini. Seperti yang lainnya susan juga berada disini karena ada permasalahan dalam kehidupannya. Berdasarkan cerita dari Rey, Saat itu susan datang ke tempat ini dengan penuh luka lebam di wajahnya seperti tanda bekas pukulan benda tumpul dan tak berhenti menangis sampai ketika Joseph dan Keyle datang ke tempat ini. Mungkin kehadiran Joseph dan Keyle telah memberi semangat hidup kepada dirinya, aku sendiri dan Rey juga tidak tahu pasti soal itu.

Dan, satu – satunya orang yang sejak awal berada di tempat ini adalah pak Willy. Di tempat ini pak Willy sudah dianggap sebagai ayah, ya mungkin karena memang sikapnya yang sangat mengayomi kami semua. Pak Willy sudah tinggal di tempat ini sejak ia menikahi Istrinya yang telah meninggal karena sakit setahun yang lalu. Dari mata pak Willy aku masih bisa merasakan bahwa ada rasa penyesalan yang sangat mendalam. Menurut rey, itu karena dia merasa bahwa dia adalah penyebab kematian istrinya. Pada saat itu istri pak Willy divonis mengidap penyakit TBC, suara batuk pun bergema terus menerus tanpa henti. Rey yang pada saat itu baru tinggal sekitar tiga hari dimintai tolong oleh pak Willy untuk menjaga istrinya sebentar, karena pak Willy harus membeli obat untuk meredakan batuk istrinya yang batuknya sudah mulai mengeluarkan darah. Sudah hampir beberapa jam pak Willy pergi untuk membeli obat tetapi masih tidak ada tanda – tanda ia akan kembali sementara itu, Ana istri pak Willy kondisinya semakin mengkhawatirkan.

“Rey, mendekatlah sejenak” pinta Ana.

“Apakah yang bisa aku bantu, ibu?” tanya Rey. Melihat kondisi Ana waktu itu, badan rey bergetar karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.



-To Be Continued

[Interlude]:Ribet

Oke setelah berjam jam ngobrak ngabrik Google, nyari tau bagaimana caranya gue bisa masuk ke blog. akhirnya bisa juga.

sebelum tulisan ini dibuat hasrat nulis gue lagi menggebu gebu, tapi sekarang? udah layu. engga tau kenapa gara-garanya, katanya sih gue ga punya akses. ah ga ngertilah gue, ribet. Akhirnya gue kepikiran buka pake Incognito, padahal mah Incognito biasanya baru gue pake pas ngebokep doang. ternyata ada kegunaannya juga ya selain buat nge-bokep. 

Thursday, November 20, 2014

11th Post: Untitled

Things are getting more complex lately, things that i was never thought of come into a reality. Fuck it.


Tuesday, November 18, 2014

10th Post: Faith (Sensitive Post)

"Harga bbm naik, semua ikut naik!", "Kebijakan yang tidak pro rakyat miskin", "Baru jadi presiden udah berani naikin harga bbm", "Itu tuh presiden yg katanya bisa bawa perubahan".

Petikan - petikan diatas adalah kalimat - kalimat yang gue temuin di media sosial, maupun forum berita digital. Menggambarkan betapa egois dan manja-nya masyarakat negara gue tinggal, Indonesia.

Banyak statement yang bikin gue menghela nafas, diantaranya:

1. Harga BBM naik semua ikut naik.

Harga bbm bukan dinaikan, tetapi subsidinya dikurangin. Apa semua yang menyerukan kalimat diatas orang yang tidak ingin standart negaranya ini ikut naik? Kenapa kalian begitu senang berada dibawah?

2. BBM naik, memberatkan rakyat miskin.

Bapak Presiden RI kita, Ir. Joko Widodo sewaktu debat Capres/Cawapres sudah bilang kalau akan mengalihkan subsidi BBM yang terlalu banyak itu, untuk perbaikan infrastruktur negara. Dan sebagai gantinya ada yg namanya Kartu Keluarga Sejahtera (CMIIW), Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar yang di peruntukan bagi masyarakat miskin. Lagi pula, yang meneriakan kalimat diatas apa semuanya orang miskin? Kenapa harus bangga kalau kalian miskin? Nabi Muhammad aja mengharuskan kita menjadi orang mapan.

3. Harga minyak dunia turun, kenapa Indonesia naik?

Coba deh dibandingin sama negara lain, walaupun dinaikin, harga bensin subsidi Indonesia ENGGAK lebih mahal ko.


Kebijakan itu engga selalu yang buat hati kita senang. Coba di inget waktu kecil dulu kebijakan apa yang orang tua kita buat sampai sampai kita kesel dengan apa yang telah orang tua kita perbuat dengan kebijakannya. Dan sekarang kalian lihat diri kalian sendiri, tanyakan dalam hati "kalau saja waktu itu gue menentang apa yang telah ditetapkan oleh orang tua gue, bakal kek apa ya jadinya sekarang?".

Gue sendiri bukanlah orang yang tumbuh dilingkungan keluarga yang ber"ada". Maka dari itu, gue sekarang sedang berusaha keras untuk merubah status ekonomi dan sosial keluarga gue agar suatu saat nanti bisa hidup lebih baik lagi dan bisa bermanfaat bagi orang disekitar gue.

Jadi, mau ikut gue merubah hidup jadi lebih baik lagi, atau lebih senang dimanja dengan subsidi dan meneriakan kalo diri lo orang miskin?