Wednesday, April 30, 2014

[Interlude] Put This on Your Mind

"Everything will be okay in the end. 
If it's not, then it is not the end"
-sebuah quotes yang inspiratif yang gue temuin di tumblr.-

Saturday, April 26, 2014

5th Post: Inside the Outside

Gue bukan tipe orang yang suka keramaian, dan gampang akrab sama orang yang baru gue kenal. jadi ya selama 21th gue hidup, orang yang gue kenal ya itu - itu aja. Sebenernya bukanya sombong atau gimana, tapi ya emang mungkin gue termasuk orang yang pemalu, malu untuk negur duluan, malu untuk bertatap muka langsung apa lagi sama cewek. Pernah waktu itu gue memberanikan diri buat ngobrol sama cewek, karena dia angkatanya dua tahun dibawah gue makanya pede - pede aja. Tapi ternyata kenyataanya ngobrol langsung sama cewek yang mau di pdkt-in itu gak semudah chat lewat Bbm atau messenger lainya.

Penyakit yang paling sering terjadi adalah kuping mendadak tuli. Jadi, bukannya sering cerita malah lebih sering bilang "hah? apaan?". Kalau diawal percakapannya gue udah sering ngeluarin kata tersebut, selanjutnya gue akan pura - pura denger apa yang dia bilang ke gue (biar engga disangka cucu H.Bolot) , dengan cara ngeliatin ekspresi mukanya. Karna kalau lagi cerita sedih / kesel mukanya gak bakal ceria kan?. 

Bukan cuma masalah bersosialisasi, gue sebagai seorang dengan Acrophobia, sangat memusuhi fasilitas umum yang namanya jembatan. Misalnya jembatan penyebrangan dan Skywalk Pondok Indah Mall, jadi mungkin aja ada diantara kalian yang baca tulisan ini pernah melihat cowo gendut rada macho, ya bisa dibilang mirip sama Jacob di film Twilight lagi diseret - seret sama temen - temennya di tengah - tengah jembatan penyebrangan ataupun skywalk PIM kemungkinan besar itu gue. Entah temen - temen gue yang kelewat baik mau ngebantu gue buat ngelawan ketakutan gue, atau mereka emang suka melihat ekspresi ketakutan gue. Well, namanya juga hidup.

Entah, sebenernya gue takut ketinggian atau gue cuma takut jatuh. Kalau menurut pencarian gue melalui Google phobia takut jatuh itu ga ada tapi yang ada hanyalah takut ketinggian. Setelah gue pikir lagi, sebenernya gue bukan takut ketinggian lebih tepatnya gue takut jatuh. Kenapa? coba gue ambil contoh, misalnya gue lagi jalan di jembatan penyebrangan, gambaran tentang jembatan yang rubuh selalu muncul, setelah jembatan rubuh otomatis kita akan terjatuh kebawah dimana jalanan penuh dengan kendaraan yang berjalan cepat, coba bayangin udah jatuh dari jembatan, ditabrak mobil, abis itu mental puluhan meter, itu juga kalo misalnya ketabrak, kalo misalnya kelindes? mejret dijalan.

 Tapi, gue bersyukur diberi permasalahan yang gue sebut diatas sama Allah. Karena masalah tersebut emang sih gue ga punya temen banyak tapi mereka adalah orang orang terbaik yang pernah gue temuin, orang - orang yang ga pernah dateng dan pergi gitu aja, sekalipun ada yang pergi pasti ada pelajaran hidup yang bisa gue ambil, dan yang paling terpenting temen - temen gue gak masalah kalo gue hutangin. Dan ketakutan gue terhadap ketinggian membuat gue belajar bahwa The easiest way to cross the street is the hardest one atau bahasa Indonesia-nya adalah jalan termudah untuk mencapai tujuan sangat sulit untuk dilakukan. Tapi kalau aja lo mampu melewatinya bukan cuma tujuan aja yang tercapai, tapi seiringnya waktu berjalan ada perubahan dalam diri tanpa di sadari. Makanya, gue sendiri mulai menanamkan di kepala gue untuk mengganti kata 'sulit' menjadi 'menantang'. Karena sebenernya gak ada satupun hal yang sulit di dunia ini kalau saja kita mau merubah pola pikir.

Friday, April 25, 2014

4th Post: Everything Happen For a Reason

"Oh, crystal ball, crystal ball
Save us all, tell me life is beautiful. Mirror, mirror on the wall~"

Potongan lyric Keane diatas ga ada hubungannya sama sekali dengan apa yang sedang mau gue cerita di post ini. Tiba - tiba aja keputer di itunes.

Since i haven't written anything on this blog about unnecessary things to talk. Then i started to think why don't i tell you about the awesomeness of my childhood, sound boring right?. But hey, you know what? i dont insist you to read this. by clicking that link you found somewhere, i know that you curious about what things that i write down on this blog. Don't you?

So, let's get started from....

Seperti yang bisa lo lihat, tepat di kanan layar komputer lo ada nama gue. Ardy Nadyanto Syahputra, dulu gue pikir kenapa nama depan gue cuma 4 huruf, sedangkan nama temen - temen atau keluarga gue kebanyakan nama depannya 5 huruf. misalnya aja nama abang gue Dimitri ( bagus ye, nama orang rusia) dipanggilnya Didit, adek gue Fauzi, sepupu gue Indah, coba lo itung berapa huruf. gue tau banget, pasti dipikiran lo sekarang lagi sekelibat lewat pertanyaan "emangnya kenapa?". Buat gue, banyaknya huruf di nama depan itu menguntungkan. Kenapa? karena dulu lagi happening sama nugget alphabet. Iya, gak penting.

Dari kecil gue udah di ikut sertain dalam Taman Pembelajaran Al-Qur'an, belajar mengenal huruf Hijaiyah. Awalnya gue ga ada tertariknya sama huruf Hijaiyah, karena emang yang gue pelajarin bukan alphabet dan cara membacanya yang dari kanan ke kiri. Mungkin itu hal yang buat gue mandeg di Iqra selama 1 tahun. Seiring berjalanya waktu gue mulai terbiasa dengan huruf Hijaiyah, mulai belajar solat, dan lebih mengenal agama gue. Disuatu sesi dalam belajar solat gue menemukan sesuatu didalam bacaan doa Iftitah yang bunyinya "INNII WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDHA HANIIFAM MUSLIMAW WAMAA ANA MINAL MUSYRIKIIN." nemuin apa yang gue maksud?. Ya, Wal Ardha. Sejak pelafalannya nyerempet - nyerempet nama gue, gue mulai nyoba memberanikan diri buat nanya ke guru ngaji gue. "Bu, Wal Ardha itu ada hubungannya ga ya sama nama saya?" kata gue, "ehm, ada ko. Artinya Bumi, mungkin karena nama kamu Ardy makanya kamu bulat seperti bumi" ucapnya dengan penuh senyum. Bilang aja gendut.

Semenjak saat itu gue mulai nyari arti nama tengah dan belakang gue. Sampai dirumah gue langsung buru - buru nemuin nyokap gue buat nanyain "hari ini makannya apa?". hehe, bercanda. Gue tanya ke nyokap "artinya Nadyanto itu apa?" nyokap langsung jawab "gabungan nama ibu sama mbah kakung". gue langsung berfikir, "trus nama bokap kenapa ga digabung?". Mungkin itu kenapa diantara gue, abang gue dan adek gue yang paling mirip mukanya sama nyokap cuma gue. 

Jadi, berdasarkan arti yang terkumpul, gue mulai nyusun puzzle yang tadinya berantakan buat jadi satu arti. Dan akhirnya gue berhasil menyusunnya menjadi "Seorang anak laki - laki yang menjadi tumpuan keluarga" kira kira begitu. Tapi, pas gue nanya pas sama nyokap kenapa namain gue Ardy, dia jawab "sebelom ngelahirin kamu, ibu lagi nonton Bulutangkis, yang main namanya Ardy siapa gitu, ibu lupa". Gue diem. Ternyata nama Ardy itu bukan karena nyokap tau artinya apa, tapi emang lagi ke sem - sem sama atlet.

Thursday, April 24, 2014

3rd Post: Can Anybody Find Their Home Out of Everyone?

Beberapa hari ini gue ngerasa seperti tete tanpa beha, terombang ambing, ora karu - karuan. Sebenernya bukan beberapa hari ini aja tapi udah lumayan lama sejak bokap gue meninggal.

Semenjak bokap gue meninggal, gue perlahan kehilangan sosok yang bisa selalu gue lihat punggungnya. Gue mencari dan terus mencari seseorang yang bisa gue lihat punggungnya. Banyak orang yang tadinya gue pikir bisa jadi panutan gue, tapi ya ternyata ekspektasi gue terlalu jauh. Dan akhirnya gue mencari lagi.

Sebagai anak laki - laki yang usianya bukan anak - anak lagi, gue sadar kalo hidup itu bukan hanya bahagia tapi juga ada fase susahnya, dan dinamika lainnya yang membuat kata 'hidup' punya makna. Kalo ngambil kata - kata orang yang paling gue kagumin saat ini adalah "Hidup itu yang penting cukup" kata - kata itu keluar dari senyum manisnya. Emang bener, semua yang kita miliki itu harus cukup, kalo berlebih ya diamalin buat orang yang butuh. Tapi gue sendiri masih suka nanya apa sih arti cukup? 

"Mau beli mobil, cukup. Mau beli rumah, cukup.
Mau jalan - jalan keluar Negri, cukup. Mau nikah, cukup."

Sampe sekarang gue juga masih belom tau mau ngapain sama hidup gue. Gue suka nulis, gue suka musik, gue suka film, dan yang paling penting gue suka sama kamu. Ketika gue nyoba buat nekunin satu bidang tertentu, gue suka tiba - tiba kealih perhatiannya ke hal lainnya, dan voila, gue tiba - tiba ninggalin yang lama dan nekunin yang baru. Terkadang gue sendiri suka mikir apa gue ADD (Attention Deficit Disorder) ya?. 

Kalo lo sendiri, udah tau mau ngapain sama hidup lo?

Well, balik lagi ke topik awal.

Nyari orang yang bisa kita contoh di era internet kayak sekarang itu bukan hal yang susah lagi. Contohnya, kita bisa baca blog orang - orang terkenal yang kita tau (kalo gatau, ya " just, google it! "). kalo gue sendiri, gue termasuk pembaca, mungkin bisa dibilang 'setia' blog ini http://rediscoveringatlantis.blogspot.com . Gue, iri. Gue iri bagaimana cara si penulis expressing the world through the words. Setiap tulisan, setiap postnya, dan mungkin seluruh blognya adalah contoh bagaimana hal yang biasa aja sebenernya, jadi menarik buat dibaca dan mungkin, dicontoh. Dan sedikit banyak, tulisan penulis sudah menginspirasi gue.

Semakin tua usia seseorang, semakin banyak jenis - jenis manusia yang ditemui. Dari yang egois, pinter, baik, bodoh, cuek, yang tulus, yang pura - pura dan banyak lagi lainnya. Semakin banyak ketemu orang, semakin bisa menyadarkan kalo hidup itu engga seindah cerita buatan Disney. Kenapa? dari banyak karakter manusia di dunia ini ga ada satupun orang yang ikhlas buat disakitin atau simplenya dibuat rugi. Makanya, engga sedikit orang di dunia ini yang jadi licik. But, the worst thing is even your dearest friends could stab you from behind.

Untuk sekarang, gue sudah menemukan orang yang bisa membimbing gue ke arah yang lebih baik lagi, orang yang bisa gue lihat punggungnya, orang yang gue kagumin setiap tulisannya, orang yang selalu bisa buat gue senyum disaat dunia buat gue merasa sendiri, orang yang ga bisa digambarin dengan titik ataupun garis, karena gue dia terlalu indah untuk digambarkan lewat goresan diatas kertas. I don't really know how long it will goes.

But.

I Love You.

Sunday, April 6, 2014

[Interlude] Tips Mengatasi Hidung Mampet

Tulisan ini dibuat pukul 3:23 wib. Ya, gue memilih menulis dibandingkan untuk bermimpi. Tentu bukan tanpa alasan gue nulis blog jam segini. Kalo ditanya "kenapa?" Jawabannya adalah gue sedang berusaha menyamankan diri dengan kondisi gue yang harus benafas lewat mulut. Agak mirip memang dengan ikan mas koki, atau ikan hias lainnya yang sedang memakan pelet di permukaan air.

Kondisi kayak gini bukan yang pertama kali gue alamin. Dari segala penyakit yang gue alamin kondisi kek gini adalah saat-saat paling ga enak. Kenapa? Karna saat gue duduk, gue bisa memfungsikan hidung gue kembali walaupun ga maksimal. Tapi, ketika gue nyoba rebahan hidung gue langsung mampet lagi, kampret.

Pernah waktu gue masih jadi siswa SMP, gue menemukan cara ampuh mengatasi hidung mampet. Caranya? Makan indomi 2 bungkus pake telor + rawit merah. Sebenernya sih, guenya aja yang lagi laper tapi setelah gue makan porsi mie spesial ala gue, lendir-lendir itu pun keluar. Dengan level kecerdasan gue yang setingkat diatas Albert Einstein, lendirnya gue sedot masuk ke dalam hidung lagi. Alhasil, ya mampet lagi. Hore.

Setelah beberapa tahun kedepan gue pun mengembangkan teori yang gue buat tadi. Karena sebenernya yang ngebantu melancarkan pernafasan gue itu bukan mie-nya, tapi kuah & rawit merahnya. Boleh percaya, boleh juga engga karna memang gue bukan lah siapa-siapa dibidang kedokteran. Dari teori tersebut tercetus lah ide brilian yang entah datangnya dari mana. Mungkin, gara-gara stok indomi dirumah gue lagi abis dan engga mungkin gue "nge-gadoin" rawit merah mentah-mentah, jadi gue lebih memilih ngerebus air dan gue taruh airnya di baskom setelah mendidih. Setelah gue pindahkan ke baskom, gue nyoba untuk menghirup hawa panas air mendidih tersebut. Setelah beberapa menit mencoba menghirup uapnya, gue ga ngerasain adanya perubahan. Gue pun berfikir. "Kenapa ga ada efek apa-apa? Bedanya apa ya pas sama makan indomie?". Ternyata jawabannya adalah ketika gue makan indomie uap panasnya itu diantarkan oleh mi yang sedang gue makan. Dengan kata lain, uap panasnya harus berkumpul di satu titik. Setelah gue menyadari "kenapa" timbul pertanyaan baru "bagaimana". Bagaimana gue bisa mengumpukan uap panas air mendidih di satu titik. Gue pun berfikir lagi. Tetiba gue terfikir soal "sauna". Uap panas sauna itu bisa terkumpul karena berada dalam suatu dimensi ruangan (sok iye, banget ya). Jadi, gue harus membuat sebuah dimensi seperti ruangan sauna, tetapi dengan sekala yang lebih kecil. Tapi gimana caranya?. Berhubung kepintaran gue satublevel diatas einstein, engga perlu waktu lama gue buat nemuin jawabannya. Handuk, iya handuk bisa menahan uap panas dari baskom berisi air mendidih. Ga percaya? Cobain aja sendiri. Berhasil, hidung gue kembali berfungsi normal.

Cara tersebut masih gue terapin sampe sekarang (kalo engga mager). Jadi kalo ada kalian diantara pembaca blog ini lagi mampet hidungnya, boleh ko nyobain trik ini. Semoga berhasil!