Wednesday, April 30, 2014
[Interlude] Put This on Your Mind
Saturday, April 26, 2014
5th Post: Inside the Outside
Bukan cuma masalah bersosialisasi, gue sebagai seorang dengan Acrophobia, sangat memusuhi fasilitas umum yang namanya jembatan. Misalnya jembatan penyebrangan dan Skywalk Pondok Indah Mall, jadi mungkin aja ada diantara kalian yang baca tulisan ini pernah melihat cowo gendut rada macho, ya bisa dibilang mirip sama Jacob di film Twilight lagi diseret - seret sama temen - temennya di tengah - tengah jembatan penyebrangan ataupun skywalk PIM kemungkinan besar itu gue. Entah temen - temen gue yang kelewat baik mau ngebantu gue buat ngelawan ketakutan gue, atau mereka emang suka melihat ekspresi ketakutan gue. Well, namanya juga hidup.
Entah, sebenernya gue takut ketinggian atau gue cuma takut jatuh. Kalau menurut pencarian gue melalui Google phobia takut jatuh itu ga ada tapi yang ada hanyalah takut ketinggian. Setelah gue pikir lagi, sebenernya gue bukan takut ketinggian lebih tepatnya gue takut jatuh. Kenapa? coba gue ambil contoh, misalnya gue lagi jalan di jembatan penyebrangan, gambaran tentang jembatan yang rubuh selalu muncul, setelah jembatan rubuh otomatis kita akan terjatuh kebawah dimana jalanan penuh dengan kendaraan yang berjalan cepat, coba bayangin udah jatuh dari jembatan, ditabrak mobil, abis itu mental puluhan meter, itu juga kalo misalnya ketabrak, kalo misalnya kelindes? mejret dijalan.
Tapi, gue bersyukur diberi permasalahan yang gue sebut diatas sama Allah. Karena masalah tersebut emang sih gue ga punya temen banyak tapi mereka adalah orang orang terbaik yang pernah gue temuin, orang - orang yang ga pernah dateng dan pergi gitu aja, sekalipun ada yang pergi pasti ada pelajaran hidup yang bisa gue ambil, dan yang paling terpenting temen - temen gue gak masalah kalo gue hutangin. Dan ketakutan gue terhadap ketinggian membuat gue belajar bahwa The easiest way to cross the street is the hardest one atau bahasa Indonesia-nya adalah jalan termudah untuk mencapai tujuan sangat sulit untuk dilakukan. Tapi kalau aja lo mampu melewatinya bukan cuma tujuan aja yang tercapai, tapi seiringnya waktu berjalan ada perubahan dalam diri tanpa di sadari. Makanya, gue sendiri mulai menanamkan di kepala gue untuk mengganti kata 'sulit' menjadi 'menantang'. Karena sebenernya gak ada satupun hal yang sulit di dunia ini kalau saja kita mau merubah pola pikir.
Friday, April 25, 2014
4th Post: Everything Happen For a Reason
Save us all, tell me life is beautiful. Mirror, mirror on the wall~"
Thursday, April 24, 2014
3rd Post: Can Anybody Find Their Home Out of Everyone?
Semakin tua usia seseorang, semakin banyak jenis - jenis manusia yang ditemui. Dari yang egois, pinter, baik, bodoh, cuek, yang tulus, yang pura - pura dan banyak lagi lainnya. Semakin banyak ketemu orang, semakin bisa menyadarkan kalo hidup itu engga seindah cerita buatan Disney. Kenapa? dari banyak karakter manusia di dunia ini ga ada satupun orang yang ikhlas buat disakitin atau simplenya dibuat rugi. Makanya, engga sedikit orang di dunia ini yang jadi licik. But, the worst thing is even your dearest friends could stab you from behind.
Untuk sekarang, gue sudah menemukan orang yang bisa membimbing gue ke arah yang lebih baik lagi, orang yang bisa gue lihat punggungnya, orang yang gue kagumin setiap tulisannya, orang yang selalu bisa buat gue senyum disaat dunia buat gue merasa sendiri, orang yang ga bisa digambarin dengan titik ataupun garis, karena gue dia terlalu indah untuk digambarkan lewat goresan diatas kertas. I don't really know how long it will goes.
But.
I Love You.
Sunday, April 6, 2014
[Interlude] Tips Mengatasi Hidung Mampet
Tulisan ini dibuat pukul 3:23 wib. Ya, gue memilih menulis dibandingkan untuk bermimpi. Tentu bukan tanpa alasan gue nulis blog jam segini. Kalo ditanya "kenapa?" Jawabannya adalah gue sedang berusaha menyamankan diri dengan kondisi gue yang harus benafas lewat mulut. Agak mirip memang dengan ikan mas koki, atau ikan hias lainnya yang sedang memakan pelet di permukaan air.
Kondisi kayak gini bukan yang pertama kali gue alamin. Dari segala penyakit yang gue alamin kondisi kek gini adalah saat-saat paling ga enak. Kenapa? Karna saat gue duduk, gue bisa memfungsikan hidung gue kembali walaupun ga maksimal. Tapi, ketika gue nyoba rebahan hidung gue langsung mampet lagi, kampret.
Pernah waktu gue masih jadi siswa SMP, gue menemukan cara ampuh mengatasi hidung mampet. Caranya? Makan indomi 2 bungkus pake telor + rawit merah. Sebenernya sih, guenya aja yang lagi laper tapi setelah gue makan porsi mie spesial ala gue, lendir-lendir itu pun keluar. Dengan level kecerdasan gue yang setingkat diatas Albert Einstein, lendirnya gue sedot masuk ke dalam hidung lagi. Alhasil, ya mampet lagi. Hore.
Setelah beberapa tahun kedepan gue pun mengembangkan teori yang gue buat tadi. Karena sebenernya yang ngebantu melancarkan pernafasan gue itu bukan mie-nya, tapi kuah & rawit merahnya. Boleh percaya, boleh juga engga karna memang gue bukan lah siapa-siapa dibidang kedokteran. Dari teori tersebut tercetus lah ide brilian yang entah datangnya dari mana. Mungkin, gara-gara stok indomi dirumah gue lagi abis dan engga mungkin gue "nge-gadoin" rawit merah mentah-mentah, jadi gue lebih memilih ngerebus air dan gue taruh airnya di baskom setelah mendidih. Setelah gue pindahkan ke baskom, gue nyoba untuk menghirup hawa panas air mendidih tersebut. Setelah beberapa menit mencoba menghirup uapnya, gue ga ngerasain adanya perubahan. Gue pun berfikir. "Kenapa ga ada efek apa-apa? Bedanya apa ya pas sama makan indomie?". Ternyata jawabannya adalah ketika gue makan indomie uap panasnya itu diantarkan oleh mi yang sedang gue makan. Dengan kata lain, uap panasnya harus berkumpul di satu titik. Setelah gue menyadari "kenapa" timbul pertanyaan baru "bagaimana". Bagaimana gue bisa mengumpukan uap panas air mendidih di satu titik. Gue pun berfikir lagi. Tetiba gue terfikir soal "sauna". Uap panas sauna itu bisa terkumpul karena berada dalam suatu dimensi ruangan (sok iye, banget ya). Jadi, gue harus membuat sebuah dimensi seperti ruangan sauna, tetapi dengan sekala yang lebih kecil. Tapi gimana caranya?. Berhubung kepintaran gue satublevel diatas einstein, engga perlu waktu lama gue buat nemuin jawabannya. Handuk, iya handuk bisa menahan uap panas dari baskom berisi air mendidih. Ga percaya? Cobain aja sendiri. Berhasil, hidung gue kembali berfungsi normal.
Cara tersebut masih gue terapin sampe sekarang (kalo engga mager). Jadi kalo ada kalian diantara pembaca blog ini lagi mampet hidungnya, boleh ko nyobain trik ini. Semoga berhasil!