Saturday, April 26, 2014

5th Post: Inside the Outside

Gue bukan tipe orang yang suka keramaian, dan gampang akrab sama orang yang baru gue kenal. jadi ya selama 21th gue hidup, orang yang gue kenal ya itu - itu aja. Sebenernya bukanya sombong atau gimana, tapi ya emang mungkin gue termasuk orang yang pemalu, malu untuk negur duluan, malu untuk bertatap muka langsung apa lagi sama cewek. Pernah waktu itu gue memberanikan diri buat ngobrol sama cewek, karena dia angkatanya dua tahun dibawah gue makanya pede - pede aja. Tapi ternyata kenyataanya ngobrol langsung sama cewek yang mau di pdkt-in itu gak semudah chat lewat Bbm atau messenger lainya.

Penyakit yang paling sering terjadi adalah kuping mendadak tuli. Jadi, bukannya sering cerita malah lebih sering bilang "hah? apaan?". Kalau diawal percakapannya gue udah sering ngeluarin kata tersebut, selanjutnya gue akan pura - pura denger apa yang dia bilang ke gue (biar engga disangka cucu H.Bolot) , dengan cara ngeliatin ekspresi mukanya. Karna kalau lagi cerita sedih / kesel mukanya gak bakal ceria kan?. 

Bukan cuma masalah bersosialisasi, gue sebagai seorang dengan Acrophobia, sangat memusuhi fasilitas umum yang namanya jembatan. Misalnya jembatan penyebrangan dan Skywalk Pondok Indah Mall, jadi mungkin aja ada diantara kalian yang baca tulisan ini pernah melihat cowo gendut rada macho, ya bisa dibilang mirip sama Jacob di film Twilight lagi diseret - seret sama temen - temennya di tengah - tengah jembatan penyebrangan ataupun skywalk PIM kemungkinan besar itu gue. Entah temen - temen gue yang kelewat baik mau ngebantu gue buat ngelawan ketakutan gue, atau mereka emang suka melihat ekspresi ketakutan gue. Well, namanya juga hidup.

Entah, sebenernya gue takut ketinggian atau gue cuma takut jatuh. Kalau menurut pencarian gue melalui Google phobia takut jatuh itu ga ada tapi yang ada hanyalah takut ketinggian. Setelah gue pikir lagi, sebenernya gue bukan takut ketinggian lebih tepatnya gue takut jatuh. Kenapa? coba gue ambil contoh, misalnya gue lagi jalan di jembatan penyebrangan, gambaran tentang jembatan yang rubuh selalu muncul, setelah jembatan rubuh otomatis kita akan terjatuh kebawah dimana jalanan penuh dengan kendaraan yang berjalan cepat, coba bayangin udah jatuh dari jembatan, ditabrak mobil, abis itu mental puluhan meter, itu juga kalo misalnya ketabrak, kalo misalnya kelindes? mejret dijalan.

 Tapi, gue bersyukur diberi permasalahan yang gue sebut diatas sama Allah. Karena masalah tersebut emang sih gue ga punya temen banyak tapi mereka adalah orang orang terbaik yang pernah gue temuin, orang - orang yang ga pernah dateng dan pergi gitu aja, sekalipun ada yang pergi pasti ada pelajaran hidup yang bisa gue ambil, dan yang paling terpenting temen - temen gue gak masalah kalo gue hutangin. Dan ketakutan gue terhadap ketinggian membuat gue belajar bahwa The easiest way to cross the street is the hardest one atau bahasa Indonesia-nya adalah jalan termudah untuk mencapai tujuan sangat sulit untuk dilakukan. Tapi kalau aja lo mampu melewatinya bukan cuma tujuan aja yang tercapai, tapi seiringnya waktu berjalan ada perubahan dalam diri tanpa di sadari. Makanya, gue sendiri mulai menanamkan di kepala gue untuk mengganti kata 'sulit' menjadi 'menantang'. Karena sebenernya gak ada satupun hal yang sulit di dunia ini kalau saja kita mau merubah pola pikir.

No comments:

Post a Comment