Chapter 1:
“Bangun!”
Seruan itu
kembali berbisik di telingaku. Akupun tidak tahu suara siapa yang selalu membangunkan
ku dari tidur setiap paginya.
Namaku Anika, menurut
orang-orang yang pernah aku temui Anika berarti “Sangat Indah”. Tetapi
sayangnya namaku sepertinya tidak merefleksikan apa-apa dalam kehidupanku. Ya,
hidupku tidaklah terlalu indah jika dibandingkan dengan kehidupan kalian yang
masih tinggal dengan orang tua, menyantap sarapan bersama setiap paginya, dan
hal lainnya yang melibatkan segelintir orang yang kalian sebut dengan Keluarga.
Bukan, aku bukan seorang yang sebatang kara. Aku masih memiliki keluarga,
tetapi entah mengapa aku tidak tahu dimana keberadaan mereka. Kehidupanku
begitu rumit, yang bahkan aku sendiripun lupa kapan hal ini dimulai.
Dalam usiaku
yang sekarang, seharusnya aku sedang sibuk mengurusi skripsi dan mengejar tanda
tangan para dosen hanya demi sebuah gelar. Saat ini aku sedang menjadi target
pengejaran polisi, karena isu yang dibuat oleh organisasi rahasia negara yang
dibentuk untuk mengamati pergerakan ‘Dunia Lain’. Mereka menyebarkan isu bahwa
aku adalah orang yang dapat membahayakan orang-orang yang berada disekitarku.
Haha, omong kosong. Walaupun, memang selalu ada hal-hal aneh yang terjadi
ketika aku sedang merasa malu ataupun ketika sedang marah. Sepertinya aku
adalah salah satu objek yang sedang mereka amati. Sepertinya, mereka mengetahui
sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui.
Entah sudah
berapa kota yang sudah aku lewati dengan berjalan kaki, ya meski terkadang
menumpang mobil yang lewat sih. Meski begitu aku tidak pernah merasa sendiri.
Ada perasaan nyaman dan aman ketika aku sedang sendirian menikmati detik tiap
detik, menit tiap menit dalam masa pengejaranku ini. Aku percaya, ada seseorang
yang tidak aku ketahui siapa dan apa yang selalu menemaniku dan membangunkan
aku setiap pagi, tentunya.
“hey, Anika!
Cepat kemari sarapanmu sudah siap”.
“Baiklah! Aku
segera datang, Rey”.
Sepertinya
mereka sudah selesai mempersiapkan sarapan. Sekarang keluargaku adalah mereka
yang kurang beruntung dalam hal materi namun tidak pernah kekurangan dalam hal
moral. Rey adalah salah satu dari mereka. Rey menemukanku yang sedang tak
sadarkan diri di tepi jalan hampir tertutup salju, malah sepertinya dia tidak
menemukanku tetapi seperti diharuskan untuk menemukanku. Ya sepertinya, mahluk
itu kembali membantuku.
“Nika,
bagaimana dengan keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?” tanya rey segera setelah
aku bergabung,
“Aku tidak
pernah merasa sebugar ini, terima kasih atas pertolonganmu rey. Soup ini sangat
enak sekali, siapa yang membuatnya?” kata ku, sambil memperhatikan anggota
lainnya yang sibuk menyeruput soup hangat masing-masing.
“Tidak ada
yang bisa membuat soup seenak ini selain pak Willy” jawab rey seraya memberi
isyarat menunjuk pak Willy dengan matanya.
Ini adalah
hari keduaku tersadar setelah hampir satu minggu tidak sadarkan diri, jadi aku
tidak mengenal siapapun disini kecuali Rey. Karena memang Rey yang berada
disebelahku ketika aku tersadar kemarin. Di tempat ini ada 5 orang, 3 pria dan
2 wanita. Ketiga pria itu adalah Rey, Joseph, pak Willy dan sisanya adalah
Susan dan Keyle.
Rey, walaupun
dia berada di tempat ini namun sepertinya dia bukan benar-benar berasal dari
sini. Garis-garis wajahnya yang begitu tegas, badannya yang tinggi tegap, dia
begitu tampan membuat aku yakin bahwa mantan kekasihnya pastilah sebanyak teman
- teman satu kelasku di SMA. Masih banyak pertanyaan yang belum sempat aku
tanyakan kepada Rey, mungkin butuh waktu untuk aku mengenalnya sebab sepertinya
rey adalah seorang introvert.
Joseph dan
Keyle, mereka berdua adalah kakak beradik dengan Joseph sebagai kakanya. Tidak
terlalu banyak yang aku ketahui tentang mereka. Rey hanya bilang kalau keluarga
mereka menjadi korban pembantaian para perampok, Joseph dan Keyle berhasil
menyelamatkan diri karena ayahnya berusaha keras menghalangi ayunan pedang yang
terus menerus diarahkan kepada mereka. Walaupun begitu, sepertinya mereka
berdua sudah sembuh dari luka yang sangat pahit itu. Ya, walaupun aku tahu luka
itu tidak akan pernah bisa mengering. Aku kagum.
Susan, seorang
wanita sekitar umur 30 tahun dan sepertinya
dia sedang mengandung terlihat dari perutnya yang sangat besar, aku rasa
tidak lama lagi akan ada jiwa yang terlahir kedunia yang sangat kejam ini.
Seperti yang lainnya susan juga berada disini karena ada permasalahan dalam
kehidupannya. Berdasarkan cerita dari Rey, Saat itu susan datang ke tempat ini
dengan penuh luka lebam di wajahnya seperti tanda bekas pukulan benda tumpul
dan tak berhenti menangis sampai ketika Joseph dan Keyle datang ke tempat ini.
Mungkin kehadiran Joseph dan Keyle telah memberi semangat hidup kepada dirinya,
aku sendiri dan Rey juga tidak tahu pasti soal itu.
Dan, satu –
satunya orang yang sejak awal berada di tempat ini adalah pak Willy. Di tempat
ini pak Willy sudah dianggap sebagai ayah, ya mungkin karena memang sikapnya
yang sangat mengayomi kami semua. Pak Willy sudah tinggal di tempat ini sejak
ia menikahi Istrinya yang telah meninggal karena sakit setahun yang lalu. Dari
mata pak Willy aku masih bisa merasakan bahwa ada rasa penyesalan yang sangat
mendalam. Menurut rey, itu karena dia merasa bahwa dia adalah penyebab kematian
istrinya. Pada saat itu istri pak Willy divonis mengidap penyakit TBC, suara
batuk pun bergema terus menerus tanpa henti. Rey yang pada saat itu baru
tinggal sekitar tiga hari dimintai tolong oleh pak Willy untuk menjaga istrinya
sebentar, karena pak Willy harus membeli obat untuk meredakan batuk istrinya
yang batuknya sudah mulai mengeluarkan darah. Sudah hampir beberapa jam pak
Willy pergi untuk membeli obat tetapi masih tidak ada tanda – tanda ia akan
kembali sementara itu, Ana istri pak Willy kondisinya semakin mengkhawatirkan.
“Rey,
mendekatlah sejenak” pinta Ana.
“Apakah yang bisa aku bantu, ibu?” tanya Rey. Melihat
kondisi Ana waktu itu, badan rey bergetar karena khawatir akan terjadi sesuatu
yang tidak di inginkan.-To Be Continued