Friday, May 22, 2015

12th Post: Anika/Anila [Chapter 1 Part1]

Chapter 1:

“Bangun!”

Seruan itu kembali berbisik di telingaku. Akupun tidak tahu suara siapa yang selalu membangunkan ku dari tidur setiap paginya.

Namaku Anika, menurut orang-orang yang pernah aku temui Anika berarti “Sangat Indah”. Tetapi sayangnya namaku sepertinya tidak merefleksikan apa-apa dalam kehidupanku. Ya, hidupku tidaklah terlalu indah jika dibandingkan dengan kehidupan kalian yang masih tinggal dengan orang tua, menyantap sarapan bersama setiap paginya, dan hal lainnya yang melibatkan segelintir orang yang kalian sebut dengan Keluarga. Bukan, aku bukan seorang yang sebatang kara. Aku masih memiliki keluarga, tetapi entah mengapa aku tidak tahu dimana keberadaan mereka. Kehidupanku begitu rumit, yang bahkan aku sendiripun lupa kapan hal ini dimulai.

Dalam usiaku yang sekarang, seharusnya aku sedang sibuk mengurusi skripsi dan mengejar tanda tangan para dosen hanya demi sebuah gelar. Saat ini aku sedang menjadi target pengejaran polisi, karena isu yang dibuat oleh organisasi rahasia negara yang dibentuk untuk mengamati pergerakan ‘Dunia Lain’. Mereka menyebarkan isu bahwa aku adalah orang yang dapat membahayakan orang-orang yang berada disekitarku. Haha, omong kosong. Walaupun, memang selalu ada hal-hal aneh yang terjadi ketika aku sedang merasa malu ataupun ketika sedang marah. Sepertinya aku adalah salah satu objek yang sedang mereka amati. Sepertinya, mereka mengetahui sesuatu yang sama sekali tidak aku ketahui.

Entah sudah berapa kota yang sudah aku lewati dengan berjalan kaki, ya meski terkadang menumpang mobil yang lewat sih. Meski begitu aku tidak pernah merasa sendiri. Ada perasaan nyaman dan aman ketika aku sedang sendirian menikmati detik tiap detik, menit tiap menit dalam masa pengejaranku ini. Aku percaya, ada seseorang yang tidak aku ketahui siapa dan apa yang selalu menemaniku dan membangunkan aku setiap pagi, tentunya.

“hey, Anika! Cepat kemari sarapanmu sudah siap”.
“Baiklah! Aku segera datang, Rey”.

Sepertinya mereka sudah selesai mempersiapkan sarapan. Sekarang keluargaku adalah mereka yang kurang beruntung dalam hal materi namun tidak pernah kekurangan dalam hal moral. Rey adalah salah satu dari mereka. Rey menemukanku yang sedang tak sadarkan diri di tepi jalan hampir tertutup salju, malah sepertinya dia tidak menemukanku tetapi seperti diharuskan untuk menemukanku. Ya sepertinya, mahluk itu kembali membantuku.

“Nika, bagaimana dengan keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?” tanya rey segera setelah aku bergabung,

“Aku tidak pernah merasa sebugar ini, terima kasih atas pertolonganmu rey. Soup ini sangat enak sekali, siapa yang membuatnya?” kata ku, sambil memperhatikan anggota lainnya yang sibuk menyeruput soup hangat masing-masing.

“Tidak ada yang bisa membuat soup seenak ini selain pak Willy” jawab rey seraya memberi isyarat menunjuk pak Willy dengan matanya.

Ini adalah hari keduaku tersadar setelah hampir satu minggu tidak sadarkan diri, jadi aku tidak mengenal siapapun disini kecuali Rey. Karena memang Rey yang berada disebelahku ketika aku tersadar kemarin. Di tempat ini ada 5 orang, 3 pria dan 2 wanita. Ketiga pria itu adalah Rey, Joseph, pak Willy dan sisanya adalah Susan dan Keyle.

Rey, walaupun dia berada di tempat ini namun sepertinya dia bukan benar-benar berasal dari sini. Garis-garis wajahnya yang begitu tegas, badannya yang tinggi tegap, dia begitu tampan membuat aku yakin bahwa mantan kekasihnya pastilah sebanyak teman - teman satu kelasku di SMA. Masih banyak pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan kepada Rey, mungkin butuh waktu untuk aku mengenalnya sebab sepertinya rey adalah seorang introvert.

Joseph dan Keyle, mereka berdua adalah kakak beradik dengan Joseph sebagai kakanya. Tidak terlalu banyak yang aku ketahui tentang mereka. Rey hanya bilang kalau keluarga mereka menjadi korban pembantaian para perampok, Joseph dan Keyle berhasil menyelamatkan diri karena ayahnya berusaha keras menghalangi ayunan pedang yang terus menerus diarahkan kepada mereka. Walaupun begitu, sepertinya mereka berdua sudah sembuh dari luka yang sangat pahit itu. Ya, walaupun aku tahu luka itu tidak akan pernah bisa mengering. Aku kagum.

Susan, seorang wanita sekitar umur 30 tahun dan sepertinya  dia sedang mengandung terlihat dari perutnya yang sangat besar, aku rasa tidak lama lagi akan ada jiwa yang terlahir kedunia yang sangat kejam ini. Seperti yang lainnya susan juga berada disini karena ada permasalahan dalam kehidupannya. Berdasarkan cerita dari Rey, Saat itu susan datang ke tempat ini dengan penuh luka lebam di wajahnya seperti tanda bekas pukulan benda tumpul dan tak berhenti menangis sampai ketika Joseph dan Keyle datang ke tempat ini. Mungkin kehadiran Joseph dan Keyle telah memberi semangat hidup kepada dirinya, aku sendiri dan Rey juga tidak tahu pasti soal itu.

Dan, satu – satunya orang yang sejak awal berada di tempat ini adalah pak Willy. Di tempat ini pak Willy sudah dianggap sebagai ayah, ya mungkin karena memang sikapnya yang sangat mengayomi kami semua. Pak Willy sudah tinggal di tempat ini sejak ia menikahi Istrinya yang telah meninggal karena sakit setahun yang lalu. Dari mata pak Willy aku masih bisa merasakan bahwa ada rasa penyesalan yang sangat mendalam. Menurut rey, itu karena dia merasa bahwa dia adalah penyebab kematian istrinya. Pada saat itu istri pak Willy divonis mengidap penyakit TBC, suara batuk pun bergema terus menerus tanpa henti. Rey yang pada saat itu baru tinggal sekitar tiga hari dimintai tolong oleh pak Willy untuk menjaga istrinya sebentar, karena pak Willy harus membeli obat untuk meredakan batuk istrinya yang batuknya sudah mulai mengeluarkan darah. Sudah hampir beberapa jam pak Willy pergi untuk membeli obat tetapi masih tidak ada tanda – tanda ia akan kembali sementara itu, Ana istri pak Willy kondisinya semakin mengkhawatirkan.

“Rey, mendekatlah sejenak” pinta Ana.

“Apakah yang bisa aku bantu, ibu?” tanya Rey. Melihat kondisi Ana waktu itu, badan rey bergetar karena khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.



-To Be Continued

[Interlude]:Ribet

Oke setelah berjam jam ngobrak ngabrik Google, nyari tau bagaimana caranya gue bisa masuk ke blog. akhirnya bisa juga.

sebelum tulisan ini dibuat hasrat nulis gue lagi menggebu gebu, tapi sekarang? udah layu. engga tau kenapa gara-garanya, katanya sih gue ga punya akses. ah ga ngertilah gue, ribet. Akhirnya gue kepikiran buka pake Incognito, padahal mah Incognito biasanya baru gue pake pas ngebokep doang. ternyata ada kegunaannya juga ya selain buat nge-bokep.